KETENANGAN
Tahap Awal Praktis
Meraih ketenangan punya banyak jalan yang secara mendasar bisa diperoleh melalui kecukupan atau tenang karena terjaga kesehatan atau apapun jalannya namun intinya "MEMPEROLEH APA YANG DIHARAPKAN SEHINGGA TERHINDAR DARI KECEMASAN". Atau apapun ujung-ujungya bisa menghilangkan atau meredam (mengurangi) kecemasan.
Nah kita tidak melihat ketenangan dari arah sana, melainkan dari kemendasaran. Dimana meskipun keadaan tetap mencemaskan namun juga tetap tenang dalam kecemasan. Bagaimana bisa ttak kontradiksi antara tenang dalam keadaan cemas?
Cemas diperlukan untuk mewaspadai keadaan. Jika hilangnya rasa cemas justru membuat kewaspadaan menurun, ini beresiko buruk.
Meraih ketenangan dalam keadaan cemas maksudnya keadaan dimana rasa cemas dapat dikendalikan sehingga keadaan cemas bukan lagi di level perasaan melainkan di level pengetahuan.
Keseimbangan Siklus
Pengendalian rasa cemas tak bisa sepenuhnya, namun bisa diredam lalu dialihkan ke sadar diri (pengetahuan tentang keadaan - mewaspadai keadaan)
HARAP CEMAS. Jadi suatu upaya memindahkan rasa cemas ke level pengetahuan, agar tetap terjaga derajat kewaspadaan secara intelektual, sedangkan dari sisi perasaan cemasnya akan beralih ke kondisi alamiah yang saling berpasangan, dimana seiring dengan berkurangnya rasa cemas maka bertambah pula rasa penuh harap.
Ada saatnya rasa cemas muncul lagi di luar kekuasaan kita, lalu membuat kita sadar situasi, dan dikendalikan lagi agar tetap cemas di level intelektual, dan rasa cemas berganti ke rasa penuh harap.
Suatu siklus "harap -cemas- harap" yang mampu meletakkan kita pada posisi "tak lalai - waspada serta mau berjuang mengatasi tak putus asa penuh harap"
🧩 Kecemasan tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang sepenuhnya negatif atau harus dihindari, melainkan sebagai bagian dari dinamika emosional yang dapat dikelola untuk mempertahankan kewaspadaan dan kesiagaan. Ini menekankan pentingnya keseimbangan antara perasaan dan intelektual dalam menjalani hidup yang penuh tantangan, di mana harapan dan kecemasan saling melengkapi untuk menjaga semangat dan motivasi dalam menghadapi situasi sulit
JENIS KECEMASAN
Ada banyak bentuk kecemasan mulai dari yang terkait dengan cemas karena terganggu kesehatan atau bentuk gangguan lain yang mencemaskan.
Dan kita hanya melihat secara mendasar saja, agar bisa sampai ke pengendalian diri terbaik.
Bahwa kecemasan adalah agar kita rela berkorban mengatasi permasalahan, sehingga mengenal yang namanya derajat kepuasan.
KEBANGGAAN DIRI. Awalnya cemas, lalu sebaiknya diatasi yang perlu pengorbanan. Dan bentuk pengorbanan tertinggi adalah mengorbankan ego - kebanggaan diri. Pertanyaannya adalah apakah bentuk kebanggaan diri tertinggi sehingga bentuk pengorbanannya juga yang tertinggi?
MERASA PENTING. Adalah bangga bahwa diri kita penting. Merasa agak penting, penting atau sangat penting.
PENGENDALIAN DIRI
KETUNDUKAN. Secara sederhana, derajat kepentingan karena seberapa merasa harus didahulukan (seberapa merasa perlu diprioritaskan), dan ini adalah bentuk kecemasan tertinggi karena kebanggaan ego, maka bentuk pengorbanannya juga yang tertinggi yaitu "ketundukan"
GEJOLAK. Karena kecemasan tertinggi diakibatkan oleh ego, dan keadaan cemas itu penuh dengan gejolak, maka gejolak tertinggi diakibatkan oleh kebanggaan ego yang minta diproritaskan.
MENYEMBAH. Lalu apa bentuk ketundukan tertinggi yang mengatasi bentuk kebanggaan tertinggi ego? Yaitu tunduk menyembah kepada Tuhan. Ini suatu bentuk pengendalian diri tertinggi kita, yaitu memaksa diri (menundukkan diri untuk) menyembah kepada-Nya. Lebih jelas lagi, yaitu konsisten dalam menyembah-Nya.
🔰 Ketika kita bisa menyembah-Nya dengan tidak terburu-buru, maka kita telah tidak sedang mementingkan diri sendiri. Tidak sedang memprioritaskan diri sendiri. Tidak sedang merasa penting mementingkan diri sendiri. Melainkan tunduk mengutamakan penyembahan tanpa bergejolak (tanpa mementingkan diri sendiri)
Itulah bentuk ketenangan tertinggi adalah ketika bisa mengatasi gejolak tertinggi karena kebanggaan ego.
❇️ Ketenangan tertinggi karena bisa mengatasi gejolak tertinggi dari kebanggaan ego yang diredam melalui sikap ketundukan melalui cara penyembahan yang dilakukan dengan tidak terburu - buru.
📌 Bagaimana melatihnya secara praktis❓Di sini mengatasi gejolak bukan juga dengan sekedar tidak terburu - buru menahan diri, melainkan tidak terburu - buru dengan kelegaan.
👉 Yaitu ketika proses menyembah terjadi maka kebanggaan ego akan muncul mengingatkan kita tentang betapa pentingnya kita harus melakukan ini & itu agar ibadah menyembahnya juga dipercepat.
〰 Di titik ini, ada perasaan memburu bergejolak, dan inilah yang harus kita redam, dengan menurunkan perasaan sampai timbul ketenangan (tiada gejolak), maka pertahankan keadaan ini terus.
KONSISTENSI
Setelah ibadah selesai, luangkan waktu untuk merenungi pengalaman ketenangan dalam penyembahan ini.
Ada dua cara pengalaman ini membawa dampak ketenangan di luar ibadah ...
1⃣ KEBIASAAN. Karena terbiasa tenang dalam pengendalian gejolak kebanggaan ego saat menyembah, maka secara otomatis membuat kita tak terburu - buru juga di luar ibadah, dan menerima semuanya berjalan sesuai urutan kepentingannya.
👉 Sabar dalam mengikuti proses.
2⃣ KEPERCAYAAN DIRI. Karena telah pernah bisa melatih ketenangan melalui pengendalian gejolak ego saat beribadah, maka kemampuan ini diulangi lagi di luar ibadah, dengan mengingat kembali atau mengulang prosesnya namun untuk hal lain. Dimana kita bisa menurunkan gejolak sampai batas yang pernah dialami menimbulkan ketenangan.
👉 Jika hal ini bisa dilakukan, maka ketenangan dalam beribadah berdampak pada sikap di luar ibadah penyembahan.
INI YANG DISEBUT IBADAHNYA BERHASIL, bukan hanya karena setelah beribadah akan secara otomatis menjadi orang yang tunduk, khusyu menenangkan, YANG BELUM TENTU TERJADI SECARA OTOMATIS, melainkan karena kita memiliki pengalaman terlatih, sehingga bisa diulang di kegiatan di luar ibadah menyembah.
KONSISTENSI
⭕️ JADI IBADAH PENYEMBAHAN YANG KHUSYU' (TAK TERBURU- BURU) tak bisa dijadikan contoh dalam mengulangi di kegiatan lainnya, berarti sebenarnya bahwa usaha menenangkan diri saat beribadah belum berhasil, belum cukup tenang karena tidak dilakukan dari awal sampai akhir kecuali hanya di menit keberapa saja, sehingga ketenangannya tidak konsisten yang mengakibatkan tak membekasnya yang menyulitkan untuk dilakukan ulang dalam kasus berbeda di luar penyembahan.
SECARA MENDASAR ... Pengalaman baik bukan berarti harus selalu secara otomatis membawa kebaikan, melainkan karena pengalaman baiknya tersebut memberi kemampuan untuk mengulangi melakukan pengalaman (perbuatan) yang baik tersebut.
SECARA KHUSUS. Karena proses menenangkan gejolak merasa pentingnya ego, gagal dilakukan dari awal proses ibadah penyembahan sampai batas akhir
📌 Pertanyaan kritisnya❓Apakah berarti ibadah penyembahan tak punya kemampuan mengubah diri menjadi tenang❓Bukan disitu masalahnya.
👉 Melainkan justru kita diberi cara untuk bisa melatih ketenangan di level tertinggi.
❇️ Disitulah kelebihan memahami manfaat penyembahan bagi ketenangan. Karena jika tak memahami manfaatnya, akan percuma juga berusaha melalui cara lain, sedangkan prinsip dasarnya sudah salah arah dari awal.
❇️ Bahwa melatih ketenangan bukan pada bersikap mengatasi kecemasan melalui cara ini itu, kecuali hanya melalui cara penyembahan
❇️ JADI, MENGETAHUI MANA YANG BISA MENJADI CARA MELATIH KETENANGAN TERTINGGI ADALAH MERUPAKAN KEUNGGULAN PENGETAHUANNYA
🎯 Keunggulan pengetahuan tentang cara melatih ketenangan tertinggi melalui penyembahan ini adalah esensial untuk mencapai ketenangan yang sebenarnya.
👉 Tanpa pemahaman ini, usaha untuk mencapai ketenangan melalui cara lain mungkin tidak akan efektif atau bahkan salah arah dari awal.


